Friday, October 09, 2009

Tidak Butuh Syariah (6)

Beberapa hari yang lalu ada pembahasan khusus mengenai Radikalisme Islam. Yang dibahas lebih spesifik pada Masalah Jargon yang selama ini sering kita dengar yakni: "Isy Kariiman au Mut Syahiidan". Hidup Terhormat atau mati syahid. Salah satu penulisnya adalah Komarudin Hidayat.
Beliau menulis bahwa dkawah yang dilakukan dengan cara seperti itu adalah bentuk ketidak pede-an sebagian umat Islam, mau melawan dengan cara Konfrontasi tidak  punya kemampuan dalam segi persenjataan. Sepemahaman saya, intinya beliau kurang setuju dengan cara perjuangan semacam itu.
Hal ini kembali lagi dengan fenomena orang beragama yang cendrung variatif, cenderung berbeda-beda sesuai dengan ilmu dan pemahamannya masing-masing.
Demikian juga dengan wacana Syariah itu sudah tidak perlu lagi digunakan dalam rangka pencapaian maqam yang lebih tinggi, hal itu adalah buah pengalaman dan keyakinan sebagian orang, sesuai dengan ilmu dan pemahamannya masing-masing.
Terkait dengan kegalauan hati yang saya curhatkan dengan seorang alim beberapa hari sebelumnya, akhirnya beliau menanggapi:

Basic Value adalah nilai-nilai yang digunakan untuk mengatur manusia. Ia bersumber dari informasi (petunjuk) yang diberikan oleh Allah dan rasul-Nya. Dalam penerapan untuk kehidupan manusia memang harus dijabarkan agar menjadi lebih operasional. Saya setuju hal ini disebut "islami." Namun, saya tetap memahami, bahwa hal ini merupakan bagian/komponen dari sistem besar "dienullah."

"Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adzariyaat : 56). Untuk dapat memenuhi tuntutan ini, kita harus mengacu pada sistem "dienullah." Jadi bukan menurut rekaan kita sendiri, apalagi dalam hal yang berhubungan langsung dengan Allah SWT.

Dalam hal yang berhubungan dengan kehidupan, Allah sudah menetapkan hukum yang diberlakukan untuk alam semesta. Rinciannya yang lebih dalam, manusia harus menggalinya untuk menemukan fenomena/gejalanya. Hukum Allah adalah eksak, konstan, dan obyektif. Dengan demikian, hukum (sunatullah) itu dapat dipergunakan sebagai acuan dalam menjalani kehidupan atau mengelola alam ini.

Tetapi kemampuan manusia adalah terbatas, sehingga variabel-variabel alam yang mampu diidentifikasi tidaklah sempurna. Maka, hasil upaya manusia untuk mengatur alam ini adalah bersifat pendekatan (approach) yang akurasinya tidaklah sempurna. Sehingga apa yang kita terapkan dalam kehidupan adalah masih terus dilakukan penyempurnaan untuk mendekati kesempurnaan, walaupun mungkin tidak akan pernah dicapainya.

Nah, jadi yang penting bukanlah bagaimana kita berdebat tentang definisi, sebab definisi adalah suatu cara yang dilakukan oleh manusia untuk memudahkan dalam memahami sesuatu. Tanpa definisi, kita sulit untuk memahami sesuatu.


Wednesday, October 07, 2009

Video Kemurkaan Gempa Sumatera barat

Baru saja saya mau OL. ada sms masuk: "Mas Saya dengar kabar di Jatim akan ada Gempa, orang-orang Ponorogo udah pada ngungsi". kaget juga saya ketika mendapat sms seperti itu, bagaimanapun sebagai manusia biasa saya masih ingin hidup lebih lama lagi kalau bisa seratus tahun lagi.
Subhanallah... baru beberapa menit OL teman saya ngasi tahu ada Video amatir yang direkam orang yang ingin mendokumentasikan atap rumahnya yang roboh. ternyata, dalam rekaman video yang mungkin menggunakan HP itu terlihat Awan tampak seperti wajah orang yang geram, murka, marah besar. Saya tidak dapat menyimpulkan apakah gerangan, yang jelas begitu saya melihat video itu bulu kuduk saya merinding, takut samape saya gemetar.


Bagi teman teman yang ingin mendownload atau hanya sekedar ingin melihat videonya silahkan lihat di Wall Facebok saya,http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/andi.tamam?ref=nf

untuk mendowload ke dalam hard disk harus di tambah ad-on dulu di browser Anda. untuk pengguna mozila link dibawah ini alamat downloadnya.
https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/9614


Semoga menjadi pelajaran untuk kita Bersama...

Tuesday, October 06, 2009

REMBULAN KESIANGAN (1)


SECERCAH ASA DI PAGI BUTA


Tetes embun dipucuk dedaunan
Sejuk…nan menyegarkan
Itulah harapan
Tapi,
Cinta dan Keinginan
Tidak selamanya seiring sejalan

Allahuakbar…. Allahuakbar….. adzan sayup-sayup terdengar merdu memanggil orang-orang yang beriman untuk segera bersimpuh dikeharibaan Tuhan-nya. Memeluk asa diantara kemabukan akan ciptaan-Nya. Mengawali hidup hari ini dengan semangat untuk meraih cita dan cinta.

Orang bilang berlomba-lombalah bangun dan beranjak sebelum ayam berkokok agar rizkinya tidak keduluan dimakan ayam. Ilustrasi sederhana orang desa. Sebenarnya dibalik ungkapan sederhana itu ada pesan moral untuk kita agar lebih bisa menghargai waktu. Sabda Rosul : ‘Waktu Bagaikan Pedang. Jika kamu tidak memotongnya maka kamu sendirilah yang akan terpotong’. Demikian mulia pesan orang tua itu.

Kabut kota Malang masih bergelayut, menutupi keindahan kota. Bagi anak kos, pagi adalah waktu yang paling tepat untuk lelap dalam buaian mimpi. Padahal, kesegaran udara pagi, menurut orang tua bisa mengawetkan badan. Memang aneh tapi nyata, mereka mestinya lebih berfikir kritis dan realistis. Merekalah yang sering kali menamakan dirinya insan intelektual, cerdas kritis terhadap persoalan-persoalan sosial aneh, bagaimana mungkin orang sakit dapat menyembuhkan penyakit. Yach, begitulah mahasiswa walaupun tindakannya salah masih dianggap benar apalagi tindakan mereka benar. Sampai saat ini tidak ada orang yang berani menyalahkan mahasiswa. Karena tidak dapat dipungkiri hampir setiap peralihan kekuasaan di negeri ini tidak ada yang tidak melibatkan mahasiswa. Betapa mahalnya harga mahasiswa. Makanya banyak aktivis yang molor kuliahnya mungkin karena alasan ini. Padahal hal ini kontradiktif dengan cara berfikir kritis dan intelektualis.

Dinginnya pagi tidaklah membuat surut Arman untuk menghadap Pencipta-nya. Baginya, kesuksesan mengalahkan rasa ngantuk dan malas di waktu pagi adalah awal dari kesuksesan hari ini.
“Eeeeemmmm…!!! Dingin sekali pagi ini…”. Gumamnya.
Setiap kali bertemu pagi ia selalu berharap dalam rangkaian harapan dan impian. Manusia hidup karena punya mimpi. Setiap apapun yang ia lakukan adalah bentuk nyata dari usaha mencapai mimpi-mimpi itu.
Seperti biasa untuk menjaga kebugaran dan kesegaran tubuh Arman selalu menyempatkan diri untuk menghirup segarnya udara pagi sambil lari-lari seputar kota Malang. Kebiasaan ini telah dijalaninya sedari SMP sejak ia ikut di karate.
Namun sejak semester akhir kuliahnya terkadang kebiasaan ini terlewatkan karena seringnya tidur larut malam. Habis subuhan selimut teballah yang menjadi temannya sampai matahari menyapa.
“Assalamu’laikum…..”. seucap salam keluar dari bibir Arman pertanda pamitan pada Tuhan-nya setelah perjalanan subuhnya. Aneh, ada rasa yang beda pagi ia rasakan. Padahal sebelum tidur semalam ada banyak kegundahan dihatinya. Terutama masalah keyakinannya memandang dan memilih seorang pendamping hidup. Baginya, hidup ini hanya sekali. Pendamping hidup-pun harus sekali untuk seumur hidup. Hakekat pendamping hidup itu adalah separuh hati yang terbelah. Menjadi satu dengan cinta sebagai jembatannya. Perjalanan hidupnya akan dijalani berdua. Susah senang bersama. Semua orang mau diajak tertawa tapi apakah semua orang mau diajak menangis. Sedang kehidupan itu fluktuatif, kadang susah kadang senang. Siapakah dia yang mampu selalu tersenyum tulus penuh kasih sayang dalam duka derita dan tawa bahagia. Dialah isteri solehah sang bunga surga.
Pagi ini, dia seolah sangat dekat dihatinya. Begitu dekat. Hingga kedekatan itu tidak mampu ia ungkapkan lewat kata-kata.
“Jen, hayo berangkat!!” Ajaknya sambil menarik selimut Jenny.
“Si’ Bos!!! Masih ngantuk…” suara lirih perlahan tenggelam kembali bersama matanya yang terpejam.
“Dah jam berapa ini..? Hayo!!!”
Tak lama kemudian Jenny bangkit kekamar mandi. Setelah bercumbu dengan yang Maha Indah keduanya berangkat menggapai sisa-sisa fajar diantara kabut tipis yang masih bergelayutan. Memang indahnya pagi melebilihi keindahan-keindahan yang dibuat manusia.  Segar, anggun. Bunga yang semalaman kuncup dalam selimut dingin kini mekar dalam pelukan mentari pagi. Kicauan burung adalah irama merdu menyambut rona merah mentari.
Disinilah harapan bersemi.
Setelah muter-muter selama beberapa menit keduanya tampak kelelahan. Keringat mulai bercucuran. Merekapun pulang.
“Ah… Segarnya!!”. Arman  menikmati setiap kucuran air yang membasahi tubunya.
oooo0oooo

Thursday, October 01, 2009

Cinta itu Nikmat

Siapa yang tidak tahu cinta? Apalagi anak muda, semua bicara tentang cinta. Andai cinta itu tiada, mungkin kita tiada kan lahir kedunia...? Kita ada karena buah cinta dari Adam dan Hawa.
Tapi terkadang hati terasa hampa, ketika kita kecewa akan cinta. Jangan salah, cinta itu bukan hanya pada dia, dia yang kita cinta, dia yang membuat hati terpesona, dia yang telah membuat kita jatuh cinta.
Ada cinta tanah air, cinta orang tua, cinta sahabat.
Suatu hari saya jalan-jalan. Sekedar melepas lelah setelah dari pagi dikejar target. Kebetulan ada Yunior yang ngajak ketemuan. Satu angkatan dibawah saya. Kata sih akut banget...
"Den, ada apa ko kayak bingung banget...?' Tanyaku pada dia.
"Ini mas, mau nanya-nanya...". Saya tahu maksud dan tujuannya ngajak ketemuan, pasti dia ada masalah.
Kami dari dulu biasa saling membantu, maklum hidup dirantau orang, teman melebihi saudara.
"Udalah...kamu ne kayak masih baru kenal saya saja..". Paksaku
Aden masih diam seribu bahasa, mengembara dalam pikirannya sendiri. Zoon Policon Animal, gitu katanya orang. Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia yang lain.
Aden tampak ragu-ragu, apa mungkin masalahnya karena terlalu privasi?? mataku terbentur pada orang-orang yang lalu-lalang... Bergandengan tangan, mesra sekali... Dunia milik berdua, mungkin hantinya bilang begitu. Aneh ya perempuan yang dengan status pacaran saja sudah sebegitu dekatnya. Yang saya tahu dalam pola hubungan apapun selama tidak resmi tetap perempuan yang dirugikan. Terkadang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang semua bisa dilakukan... Kasian sekali, makanya sejak dulu saya ingin kalau punya anak perempuan tidak mau dikuliahkan diluar, apalgi tanpa kontrol. Kuliah di pesantren saja, tahun 2009 sudah kayak gini apalagi kalau sudah anakku tua nanti, entah kayak apa?
Lama kami saling diam terpaku dalam bisu... (Bersambung)

Tuesday, September 29, 2009

Purnama di Balik Jendela (1)


Gagal Berkembang Part 1

Kembang mulai berjatuhan, padahal baru kemarin sore rasanya engkau merekah. Dahan patah akan muncul pucuk baru. Sekarang kaya, siapa tahu besok sengsara. Jika kali ini nestapa siapa tahu besok kita bahagia. Kembang itu berjatuhan, kemarin indah sekali bila beradu dengan tatapan mata. Senja di lembah jingga. Warnanya surut, meredup. Padahal tadi pagi, alam ini indah, terang, bersinar. Malampun menjelang, wajah alam sembunyi dibalik kegelapan. Malam semakin larut, gelap, pekat. Jiwapun serasa sepi, sunyi sendiri seolah tanpa arti. Putus asa, menderita, hampa. World is nothing. ‘jangan takut akan gelap, malah kegelapan yang paling pekat sekalipun ketika menjelang cahaya, saat-saat fajar menyingsing. Itulah kehidupan baru, harapan baru. Kehidupan baru.
Mas, apa kabar...?”. Satu sms masuk dalam inbox-nya Rahman. Seolah kembali ke masa beberapa tahu yang lalu. Masa-masa dia aktif di kegiatan kemahasiswaan. Masa-masa dia aktif berorganisasi, jadi aktifis. Pada waktu itu dia terobsesi dengan kata Bung Karno: ‘Untuk menaklukkan sebuah negara, taklukkan dulu seorang wanita...’. sang Proklamator kemerdekaan itu memang dikenal banyak punya perempuan. Mungkin benar kata orang, semakin seseorang banyak berfikir, maka hal itu seiring dengan naiknya nafsu libido. Makanya mungkin mengapa kebanyakan para pejabat tinggi hanya punya satu istri. Satu dirumah, satu ditempat dinas, satu di Surabaya satu di Jakarta.
Terlepas apapun alasannya, yang jelas jarang orang yang mau diduakan. Jarang orang yang mau dipoligami.
Rahman masih menatap isi pesan itu, sangat jelas wajah si pengirim terbayang dipelupuk matanya. Seorang wanita yang seksi, cantik, putih mulus. Orang yang tidak kesem-sem melihat wajahnya mungkin sedang lelap dalam mimpi, atau sedang sakit. Karena begitu cantiknya hingga teman-teman cowoknya pada waktu itu pada naksir semua. Kalau masih normal wajahnya akan selalu membayang. Dia bagaikan titisan peri dari khayangan diciptakan untuk menyebar pesona keindahan.
Di bibirnya tersungging senyum kecil. Entah apa arti senyuman itu? Yang jelas dia hanya terpaku.
Tak lama kemudian, Siska Calling.... HP di tangan Rahman berdering. Mendendangkan lagunya Naff ‘Akhirnya kumenemukanmu’. Rahman masih tetap diam tanpa reaksi.
Satu pesan dterima, ‘Mas ko g dbls ce... tlp g diangkt...’
Saat-saat seperti itu dalam beberapa bulan terahir ini sangat sering Rahman alami. Siska selalu SMS, calling. Awalnya Rahman meladeninya. Paling tidak tali silaturrahmi tidak boleh terputus. Tapi lama kelamaan terasa capek juga, telpon hanya sekedar untuk bercerita tadi malem makan di ini, belanja di itu, jalan-jalan kesini dan kesitu.
Dulu, Siska dan Rahman sempat saling suka. Walaupun tidak pernah ada kata cinta dan sayang perilaku mereka tidak bisa dibohongi. Lidah perbuatan lebih tajam dari pada lidah kata-kata. Rahman, juga enggan mengutarakan itu secara verbal. Sudah sama-sama dewasa, sudah sama-sama maha, mahasiswa maksudnya hehe...
Rahman akhirnya mau mengikat hubungan kasih itu dengan resmi ada hitam diatas putih, ada penembakan. Ternyata satu hari sebelum hari yang direncanakan Siska sudah jadian dengan Abdi, mahasiswa luar Jawa yang secara penampilan, status ekonomi dan sosial melebihi dirinya. Dia hanya bisa jalan kaki ke kampus, Abdi sudah punya kaki empat.
Walau serasa sakit dan perih dia terima kenyataan itu dengan senyum. Jodoh tidak akan kemana. Jika memang dia jodohku kata Rahman suatu saat dia akan kembali, sejauhauh merpati terbang dia kembali kesarangnya jua. Inilah yang terbaik. Cuma hal tidak bisa diterima oleh Rahman muncul gosip bahwa dirinya mengejar-ngejar Siska. Memaksakan cintanya. Betapa malu Rahman pada saat itu, apalagi teman-teman seangkatannya hampir kenal semua. Ironisnya, Siska-lah yang menyebarkan gosip tidak enak itu.
Setelah beberapa tahun ini, ternyata Abdi pulang ke kampung halamannya. Janji untuk menikahi Siska sampai detik ini tiada kabar berita.
“Brow! Eman-eman lho... cantik...”. Kata Veri sambil menepuk pundaknya. Mereka berdua akrab sejak Ospek dulu, kebetulan satu kelompok.
Rahman hanya tersenyum, lidahnya masih tak mampu mengucapkan kata-kata.
“Waduh jangan-jangan dah beda selera sekarang. Suka sama tante-tante...”. Ledek Very. Very tahu betul cerita sebenarnya antara Siska dan Rahman.
“Gimana lagi Ver, sekarang sudah waktunya kita menata masa depan. Sampai kapan hidup ini kita lewati main-main....”.
“Hoho! Bijak sekali....”.
“Sangat mungkin aku menjalin kasih dengannya, sangat mungkin aku menikahinya dan sangat mungkin aku mempermainkannya. Membangun hubungan hanya untuk kesenangan sesaat... tapi arti semua itu? Bila bangunan cinta yang saya bangun jauh dari ketulusan, jauh dari kesetiaan....”. Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Very walau terlihat cengengesan sejak Bapaknya meninggal kedewasaannya terasa banget. Biasanya suka dugem, sekarang lebih suka menghabiskan kejenuhannya dengan mengaji. Kemudian Rahman melanjutkan:
“Kita akan merasakan nikmatnya cinta ketika mencintai seseorag dengan hati. Bukan dengan akal dan nafsu... mencintai dengan akal akan berakhir pada untung rugi, kalau menguntungkan jalan terus, kalau merugikan cukup sampai disini. Jika mencintai karena nafsu akan berkhir dengan kesengsaraan. Lihat orang-orang disekitar kita, dengan dengan alasan cinta menghalalkan segalanya. Akhirnya tunas-tunas muda gagal merekah dan berkembang....”.
“Memang seh... saya sudah merasakannya...”. Kata Very lirih, dia teringat kisah cinta-nya yang sad-ending. “Kebahagiaan itu ternyata dihati... maka kalau mau bahagia dalam bercinta, bercinta-lah dengan hati...”.


Tiada yang lebih aneh daripada masalah cinta. Jika hati sudah bilang cinta orang bilang apapun yang ada hanya cinta. Orang bilang secantik apapun kalau hati tidak cinta semuanya serasa hampa. Kataorang cinta itu aneh tapi nyata. Orang yang mencintai dan dicintai mempunyai arah resonansi. (Bersambung)