Ternyata Kota Mabago Melahirkan Penulis baru, yang selama ini kita kenal dengan sebutan A. Totabuan Syukur, kami biasa memanggilnya dengan Bang Syukur.
Kota yang sebenarnya merupakan cikal bakal kebudayaan Sulawesi Utara ini memang tidak terlalu dikenal dipentas nasional, disadari atau tidak justru disinilah akar peradaban Sulawesi Utara.
Saat ini salah satu putera daerahnya menulis beberapa buku, salah satunya Bukan Penebus Salah yang rencanya akan di luncurnya akhir bulan ini.
Cinta dan Keinginan kadang tidak seiring sejalan, tapi siapa yang tahu yang terbaik untuk dijadikan pendamping hidup. Begitu kira-kira sekelumit isi dalam buku ini, untuk lebih jelasnya coba baca sinopsis dibawah ini:
Nurlela bukan pacar namun Dul merasa punya kedekatan batin. Mereka satu SMA di Bolaang Mongondow namun berpisah setelah Dul memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jawa. Perpisahan semakin terasa ketika Dul sibuk di organisasi di kampusnya. Nurlela sedikit tersisihkan. Bahkan bayangan Nurlaela lenyap ketika Dul menjadi mahasiswa penting dengan menjadi Presiden Mahasiswa.
Saat tenang datang, ketika semua kesibukan hilang dan status sebagai mahasiswa penting melayang, Nurlela kembali terbayang. Pongoibuon (keteringatan yang luar biasa) mendera Dul yang membuatnya tak kunjung menyelesaikan kuliah.
Akhirnya Dul tak tahan. Diapun pulang. Namun dia harus kecewa. Nurlela sudah menikah. Di tengah kekecewaannya muncul Fitrih, adik Nurlela, yang sudah dewasa dan sangat mirip kakaknya.
Semoga ini menjadi awal dari lahirnya Penulis-penulis baru di Sulawesi utara.
Menarik memang bebicara dengan orang sukses, bahan omongannya pasti bermanfaat. Saya beberapa hari yang lalu kebetulan bertemu dengan salah seorang yang saya anggap berhasil dan sukses. saya bertanya padanya apa resep untuk sukses? Jawabnya singkat dan padat. "Bertemanlah dengan orang Sukses". Begitu katanya.
Benar memang apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, Jika berteman dengan tukang besi maka akan kena bau asap, jika berteman dengan penjual Misik, maka akan bau wangi...
Bagi saya yang kebetulan suka dunia komputer dan hal-hal yang berkaitan dengannya sangat mencari figur untuk dijadikan Mazhab. Kalau dalam agama biasanya ada mazhab yang di ikuti untuk dijadikan pedoman, saya rasa dalam dunia teknologi-pun berlaku hal yang sama.
Dalam kesendirian disela-sela luangnya aktifitas saya membuka lembaran-lembaran Buku karangan Mas Romi (Romi Satria Wahono), judulnya "Dapat Apa Kita dari Universitas". Pertanyaan yang sederharna tapi kedengaran Provokatif.
Kirain seperti buku yang sebelumnya pernah saya tahu, buku yang mengesampingkan Pendidikan Formal dalam menunjang kesuksesan seseorang. Pendidikan formal itu tidak penting!!! Yang penting adalah kompetensi yang dimiliki oleh seseorang, itulah yang menentukan On-Sale atau tidak.
Lain halnya dengan buku itu, Mas Romi dengan gaya bahasa yang sederhana, penuh dengan guyonan memberikan pencerahan bahwa pendidikan formal dan in-formal idealnya seiring sejalan. Istilah beliau, kemampuan Defacto dan Dejure.
Saya terus memabaca lembar demi lembar buku itu, salah satu bab menceritakan bagaimana masa-masa perjoeangan Mas Romi ketika kuliah di Jepang, yang mungkin sangat inspiratif bagi saya.
Akhirnya sampailah pada satu kesempatan saya bisa komunikasi sama beliau via telepon, ternyata orang sangat ramah dan perhatian. Salam Perjoeangan!! (to be continued)
Semua tempat adalah sekolah semua orang adalah guru. Itu prinsip calon intektual sejati.
Arman dan Abda menembus dinginnya malam ini. Menghabiskan malam bersama bururng hantu. Bunyi jangkrik bersautan. Diantara kegelapan malam ada makna dan kebijaksanaan. Bintang-gemintang yang gemerlapan, indahnya sinar sang rembulan dan lazuardi terhampar bak permadani sang di istana kedamaian. Ini, hanya bisa dimikmati dikala malam menjelang.
Sambil membetulkan tempat duduknya Abda memulai pembicaraan.
“Man, bagaimana pendapatmu tentang seorang wanita?”. Abda adalah seorang mahasiswa dikampus negeri ternama di lingkungan Malang Raya. Ia adalah teman seorganisasinya.
“Menurutku, wanita itu unik”. Jawabnya singkat.
“Keunikan dari sisi apa?”.
“Wanita itu adalah miniatur sebuah negara, kata Bung Karno untuk menundukkan sebuah negara tundukkanlah dulu seorang wanita. Karena dalam diri wanita terdapat variasi karakter yang komplek. Jangan pernah strategi yang mantap dalam perang dianggap mantap untuk menundukkan seorang wanita”.
“Trus, wanita yang kayak mana yang kamu maksud. Jangan salah, banyak wanita yang punya entitas berbeda dengan wanita lainnya. Wanita dulu dengan sekarang beda loya…”.
“Sip!! Begitulah, keunikan wanita itu. Terkadang ada wanita yang tetap eksis dengan kewanitaannya. Ada juga yang melampaui batas-batas kodrat kewanitaan yang dianugerahkan Tuhan padanya”.
“Mungkin maksudmu side-affect dari emansipasi wanita. Misalkan, Margaret Teacher –Mantan Perdana Menteri Wanita Pertama didunia- dianggap sebagai ikon emansipasi itu. Yang menganggap wanita punya peranan politik yang sama dengan pria”.
Keduanya tenggelam dalam diskusi kering itu, hal ini biasa mereka lakukan mengisi sela-sela kesibukan rapat ataupun ketika kebetulan meraka ngongkow bareng diwarung kopi.
Sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya Abda memecah kebekuan itu. “Emm, banyak arah hidup seorang laki-laki terkadang dibelokkan oleh seorang wanita. Kita lihat banyak mahasiswa yang hanya kerjaannya main-main kesana-kemari karena sibuk kencan dengan pacarnya. Kita tahu otak perang dunia ke-2 adalah Adolf Hitler, yang ternyata setiap kebijakan-kebijakan politik destroyer-nya dipengaruhi oleh Eva Brauwn. Ataupun Bill Clinton yang hampir jatuh dari jabatannya sebagai presiden AS karena perselingkuhannya dengan Maria. Yach, begitulah wanita ternyata sangat mengancurkan idealisme kaum muda. Terutama kayak kamu tuh… karena mikirin wanita kayak sekarang ini sukanya berpuisi aja, hahaha…..”.
“Ko tahu kamu kalo ku sedang mikirin wanita.. so ngerti ja lho…!!”
“Jangan munafik uey!!! Aku tuh ga pernah lihat kamu kayak gini, sering merenung, tersenyum sendiri. Karena apa hayo!! Wong biasanya juga ada masalah pelik sekalipun kamu santai-santai aja ko… wanita manakah kiranya yang telah membuat sahabatku hilang ini kecerdasannya.. hahahahaha….”. Ledek Abda dengan gaya khas sipit matanya.
“Ga ah… biasa-biasa saja ko… kebetulan aja sekarang lagi yach gitu dech….”. Arman berusaha menutupi kegalauan hatinya selama ini. Memang jauh dilubuk hatinya sedang dilanda kegalauan. Galau, sederhana memang. Mengenal seorang wanita terkadang tidak bisa pake akal pikiran karena perasaan mengerti lebih tajam untuk mendeskripsikan hakekat seorang wanita.
“Udalah, jangan bohong keteman sendiri saja ko gitu… nyantai boss!!! Kubantu-kubantu. Coba sebutin namannya sapa, jurusan apa dari kampus mana? Ntar ku yang ngatur, ok!”.
“Ga usah, mang ga ada apa-apa ko…”.
Keduanya kembali tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tanpa disadari momen-momen seperti inilah yang justru melatih dialektika dan kekritisan mereka dalam menganalisa masalah.
“Gimana setuju nggak kalo ku bilang wanita itu racun dalam kehidupan ini…?. Tampaknya, Abdi mengalihkan kembali ke diskusi masalah wanita.
“Kalo menurutku tidak semudah itu…”. Arman diam sejenak, mencari kata yang tepat untuk melukiskan betapa mulianya seorang wanita. “Tiada orang hebat sekalipun didunia ini yang tidak terlahir dari rahim seorang wanita. Begitu mulianya beliau sampe-sampe ketika Rosul ditanya oleh sahabat siapa yang harus dihormati pertama kali antara ibu dan bapak. Rosulullah menjawab ibu, sampai pertanyaan ketiga kalinya beliau tetap menjawab ibulah yang harus di hormati pertama kali baru kemudian bapak. Rosul juga mengingatkan bahwa surga itu ada ditelapak kaki ibu. Kasih sayangnya melebihi tingginya gunung Fuji ataupun luasnya gurun Sahara. Juga cintanya lebih dalam dari pada samudera Hindia. Setiap wanita adalah calon ibu. Jangan pernah meremehkan wanita karena memang ia diciptakan sebegitu mulianya. Perjuangan Rosul-pun banyak didukung oleh Siti Khatidjah yang dengan ketulusan kasih sayangnya membuat beliau selalu tegar. Cuma kemudian mengapa, dalam keluarga banyak perselingkuhan? Karena didalam rumah tangga mereka tidak menemukan kepuasan. Jangan kira mereka yang selingkuh istrinya tidak cantik. Akan tetapi kebahagiaan dan kedamaian hati tidak mereka temukan ketika berkumpul dengan sanak keluarga. Jadi, hati-hatilah memilih seorang wanita. Ia akan menjeruskanmu dalam kesengsaraan ataupun membuatmu besar dalam kehormatan…”. Begitu serius keduanya hingga Abda melongo. Keduanya kembali terdiam dalam lamunannya masing-masing. Terasa benar peran besar seorang wanita dalam perputaran hidup manusia.
Qais, rela gelar majnun (gila) ia sandang demi mempertahankan kesucian cintanya pada Laila (-Laila Majnun, Syaik Nizami). Dalam gumam kecil Qais sering berbisik; ‘Andai pagi ini mentari enggan terbit cukuplah seulas senyummu sebagai pengganti…’. Seolah-olah sudah tiada perbedaan lagi antara gelap dan terang. Susah ataupun senang. Bahagia ataupun derita. Dalam hal ini bukan kecintaan buta Qais sebenarnya yang menjadi tolak ukur, akan tetapi betapa wanita yang dicintai atas dasar diri seutuhnya akan mampu memberikan inspirasi dan semangat dalam setiap langkah kehidupan ini.
Begitupun juga, cinta Zainudin ke diri Hayati (-Tenggelamnya Kapal Vander Wijk, Buya Hamka) yang terhalang oleh dinding adat dan kemewahan dunia telah mampu mengobarkan semangatnya untuk terus berkarya. Walau pada akhirnya Hayati sengsara karena salah ambil keputusan.
Pagi yang indah, sangat indah. Betapa keindahan ini begitu menyejukkan. Andai setiap pagi selalu indah betapa dan sangat indah hidup ini. Apa sebenarnya yang membuat hari itu menjadi indah? Apakah karena mataharinya yang berbeda? Ataukah suasana hatinya yang berbeda? Ada orang yang meskipun ditempat yang sepi hatinya ramai, bising, pengap, penuh dengan ketidak nyamanan. Ada juga yang selalu tenang, damai walau berada dalam keramaian dan kebisingan. Jika hati sedang kalut, semua menjadi ruwet. Jika hati sedang senang semua menjadi indah. Ternyata keindahan dan ketenangan hidup itu ada di hati yang tenang dan tentram. Erbe Sentanu dalam Quantum Ikhlas, mempunyai metodologi menarik untuk menciptakan dan mewujudkan kesuksesan di dunia dan akherat. Beliau mempunyai istilah The Power of Positive Feeling. Bukan hanya Positive Thinking akan tetapi FEELING. Think itu di akan/otak. Sedangkan Feeling itu di hati. Jika suasana hati senang bahagia (Positive Feeling) maka semua tampak mudah dan indah, begitupun sebaiknya. Dalam bukunya Erbe sentanu menyertakan Software berbentuk CD untuk dijadikan latihan menciptakan dan mengembangkan Positive Feeling. Itu hanya sebagian cara saja. Yang paling nikmat dan enak adalah menjalankan panduan dan arahan yang di berikan langsung oleh Pencipta manusia. Melalui kitab suci yang diturunkannya. Mengapa harus ada Sholat Shubuh? Sholat yang dilaksanakan pagi hari, saat akan memulai kehidupan hari-hari. Tidak lain dan tidak bukan untuk memberikan awalan yang indah dan positive di awal aktivitas itu. Positive Feeling begitu lebih tepatnya, yang merupakan alur proses untuk menciptakan surga di hati Agar hidup ini indah dan bermakna.