Saturday, November 21, 2009

Empat Karya Perubahan





Ternyata Pena lebih tajam dari pedang, tarian pena mampu merubah dunia, tarian pena mampu melahirkan revolusi. Revolusi kebudyaan bahkan revolusi peradaban. Warisan yang paling indah adalah kreatifitas, sedangkan warisan yang mampu merubah dunia adalah pemikiran yang mampu dituangkan dalam buku.
Segalanya akan berubah tak terkecuali perubahan itu sendiri (Everything will be change alhthough the change itself), pertanyaannya adalah perubahan seperti apa yang kita inginkan. Kini pembawa perubahan telah datang, dia menorehkan kara dan buah pikirnya melalui tarian pena.
A. Totabuan Syukur, sang maestro dari sulawesi utara. Ingin menggulirkan perubahan lewat sajian ceritanya yang sederhana namun penuh makna, semoga menjadi pembuka mata bagi kita.....
Tujuh Cerita perubahan akan segera diluncurkan pada Akhir tahun ini, adapun empat diantaranya bisa kita lihat.

Bukan Penebus Salah

Ternyata Kota Mabago Melahirkan Penulis baru, yang selama ini kita kenal dengan sebutan A. Totabuan Syukur, kami biasa memanggilnya dengan Bang Syukur.
Kota yang sebenarnya merupakan cikal bakal kebudayaan Sulawesi Utara ini memang tidak terlalu dikenal dipentas nasional, disadari atau tidak justru disinilah akar peradaban Sulawesi Utara.
Saat ini salah satu putera daerahnya menulis beberapa buku, salah satunya Bukan Penebus Salah yang rencanya akan di luncurnya akhir bulan ini.
Cinta dan Keinginan kadang tidak seiring sejalan, tapi siapa yang tahu yang terbaik untuk dijadikan pendamping hidup. Begitu kira-kira sekelumit isi dalam buku ini, untuk lebih jelasnya coba baca sinopsis dibawah ini:

Nurlela bukan pacar namun Dul merasa punya kedekatan batin. Mereka satu SMA di Bolaang Mongondow namun berpisah setelah Dul memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jawa. Perpisahan semakin terasa ketika Dul sibuk di organisasi di kampusnya. Nurlela sedikit tersisihkan. Bahkan bayangan Nurlaela lenyap ketika Dul menjadi mahasiswa penting dengan menjadi Presiden Mahasiswa.
Saat tenang datang, ketika semua kesibukan hilang dan status sebagai mahasiswa penting melayang, Nurlela kembali terbayang. Pongoibuon (keteringatan yang luar biasa) mendera Dul yang membuatnya tak kunjung menyelesaikan kuliah.
Akhirnya Dul tak tahan. Diapun pulang. Namun dia harus kecewa. Nurlela sudah menikah. Di tengah kekecewaannya muncul Fitrih, adik Nurlela, yang sudah dewasa dan sangat mirip kakaknya.


Semoga ini menjadi awal dari lahirnya Penulis-penulis baru di Sulawesi utara.