KARYA: A. TOTABUAN SYUKUR
Sunday, November 22, 2009
Saturday, November 21, 2009
Empat Karya Perubahan
Ternyata Pena lebih tajam dari pedang, tarian pena mampu merubah dunia, tarian pena mampu melahirkan revolusi. Revolusi kebudyaan bahkan revolusi peradaban. Warisan yang paling indah adalah kreatifitas, sedangkan warisan yang mampu merubah dunia adalah pemikiran yang mampu dituangkan dalam buku.
Segalanya akan berubah tak terkecuali perubahan itu sendiri (Everything will be change alhthough the change itself), pertanyaannya adalah perubahan seperti apa yang kita inginkan. Kini pembawa perubahan telah datang, dia menorehkan kara dan buah pikirnya melalui tarian pena.A. Totabuan Syukur, sang maestro dari sulawesi utara. Ingin menggulirkan perubahan lewat sajian ceritanya yang sederhana namun penuh makna, semoga menjadi pembuka mata bagi kita.....
Tujuh Cerita perubahan akan segera diluncurkan pada Akhir tahun ini, adapun empat diantaranya bisa kita lihat.
Bukan Penebus Salah
Ternyata Kota Mabago Melahirkan Penulis baru, yang selama ini kita kenal dengan sebutan A. Totabuan Syukur, kami biasa memanggilnya dengan Bang Syukur.Kota yang sebenarnya merupakan cikal bakal kebudayaan Sulawesi Utara ini memang tidak terlalu dikenal dipentas nasional, disadari atau tidak justru disinilah akar peradaban Sulawesi Utara.
Saat ini salah satu putera daerahnya menulis beberapa buku, salah satunya Bukan Penebus Salah yang rencanya akan di luncurnya akhir bulan ini.
Cinta dan Keinginan kadang tidak seiring sejalan, tapi siapa yang tahu yang terbaik untuk dijadikan pendamping hidup. Begitu kira-kira sekelumit isi dalam buku ini, untuk lebih jelasnya coba baca sinopsis dibawah ini:
Nurlela bukan pacar namun Dul merasa punya kedekatan batin. Mereka satu SMA di Bolaang Mongondow namun berpisah setelah Dul memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jawa. Perpisahan semakin terasa ketika Dul sibuk di organisasi di kampusnya. Nurlela sedikit tersisihkan. Bahkan bayangan Nurlaela lenyap ketika Dul menjadi mahasiswa penting dengan menjadi Presiden Mahasiswa.
Saat tenang datang, ketika semua kesibukan hilang dan status sebagai mahasiswa penting melayang, Nurlela kembali terbayang. Pongoibuon (keteringatan yang luar biasa) mendera Dul yang membuatnya tak kunjung menyelesaikan kuliah.
Akhirnya Dul tak tahan. Diapun pulang. Namun dia harus kecewa. Nurlela sudah menikah. Di tengah kekecewaannya muncul Fitrih, adik Nurlela, yang sudah dewasa dan sangat mirip kakaknya.
Saat tenang datang, ketika semua kesibukan hilang dan status sebagai mahasiswa penting melayang, Nurlela kembali terbayang. Pongoibuon (keteringatan yang luar biasa) mendera Dul yang membuatnya tak kunjung menyelesaikan kuliah.
Akhirnya Dul tak tahan. Diapun pulang. Namun dia harus kecewa. Nurlela sudah menikah. Di tengah kekecewaannya muncul Fitrih, adik Nurlela, yang sudah dewasa dan sangat mirip kakaknya.
Semoga ini menjadi awal dari lahirnya Penulis-penulis baru di Sulawesi utara.
Sunday, November 08, 2009
Sang Mazhab (Romi Satrio Wahono) (1)
Menarik memang bebicara dengan orang sukses, bahan omongannya pasti bermanfaat. Saya beberapa hari yang lalu kebetulan bertemu dengan salah seorang yang saya anggap berhasil dan sukses. saya bertanya padanya apa resep untuk sukses? Jawabnya singkat dan padat. "Bertemanlah dengan orang Sukses". Begitu katanya.
Benar memang apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, Jika berteman dengan tukang besi maka akan kena bau asap, jika berteman dengan penjual Misik, maka akan bau wangi...
Bagi saya yang kebetulan suka dunia komputer dan hal-hal yang berkaitan dengannya sangat mencari figur untuk dijadikan Mazhab. Kalau dalam agama biasanya ada mazhab yang di ikuti untuk dijadikan pedoman, saya rasa dalam dunia teknologi-pun berlaku hal yang sama.
Dalam kesendirian disela-sela luangnya aktifitas saya membuka lembaran-lembaran Buku karangan Mas Romi (Romi Satria Wahono), judulnya "Dapat Apa Kita dari Universitas". Pertanyaan yang sederharna tapi kedengaran Provokatif.
Kirain seperti buku yang sebelumnya pernah saya tahu, buku yang mengesampingkan Pendidikan Formal dalam menunjang kesuksesan seseorang. Pendidikan formal itu tidak penting!!! Yang penting adalah kompetensi yang dimiliki oleh seseorang, itulah yang menentukan On-Sale atau tidak.
Lain halnya dengan buku itu, Mas Romi dengan gaya bahasa yang sederhana, penuh dengan guyonan memberikan pencerahan bahwa pendidikan formal dan in-formal idealnya seiring sejalan. Istilah beliau, kemampuan Defacto dan Dejure.
Saya terus memabaca lembar demi lembar buku itu, salah satu bab menceritakan bagaimana masa-masa perjoeangan Mas Romi ketika kuliah di Jepang, yang mungkin sangat inspiratif bagi saya.
Akhirnya sampailah pada satu kesempatan saya bisa komunikasi sama beliau via telepon, ternyata orang sangat ramah dan perhatian. Salam Perjoeangan!! (to be continued)
Subscribe to:
Posts (Atom)





